Mengenang Kembali 7 Perwira TNI AD yang Gugur Dalam Peritiwa Kelam G30S/PKI

7 perwira TNI AD yang gugur dalam peritiwa kelam G30S/PKI (net)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

BERITA TERKAIT

JAKARTA –  Saat tragedi pemberontakan G30S/PKI meletus, 7 perwira TNI Angkatan Darat gugur. Ketujuh perwira ini dibunuh kemudian dibuang ke dalam sebuah lubang yang kini dikenal sebagai Lubang Buaya, Jakarta Timur dan menjadi bagian dari Monumen Pancasila Sakti.

Adapun berikut 7 perwira TNI yang menjadi korban dalam tragedi berdarah tersebut:

1. Ahmad Yani

Jenderal TNI Ahmad Yani lahir di jenar, Puworejo 19 Juni 1922. Ia diangkat oleh Presiden Sukarno menjadi Panglima Angkatan Darat menggantikan Abdul Haris Nasution.

Ia diculik dan dibunuh, kemudian jenazahnya dibuang kedalam sumur yang kini dikenal dengan Lubang Buaya.

2. S. Parman

Mayjen S Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918. Ia menjabat sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Ia menjadi salah satu korban kekejaman PKI pada masa itu.

Kemudian untuk mengenang jasa S Parman namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di beberapa daerah.

3. Suprapto

Letjen R Soeprapto merupakan pria kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, pada 20 Juni 1920.  Terakhir ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatra. Ia dibunuh di Luibang Buaya, setelah jenazahnya ditemukan kemudian dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta Selatan.

4. D.I. Panjaitan

Donald Izacus (D.I) Panjaitan lahir di Sitorang, Balige pada 10 Juni 1925. Ia pernah mengikuti pendidikan Associate Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat selama enam bulan saat menjabat sebagai Asisten IV/Men Pangad.

Ia diberi gelar pahlawan revolusi saat gugur dalam peristiwa berdarah tersebut. Selain itu pangkatnya juga dinaikkan menjadi Mayor Jenderal Anumerta.

5. Sutoyo

Sutoyo Siswomihardjo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 23 Agustus 1922. Ia masuk sebagai bagian Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bagian kepolisian yang berkembang jadi Corps Polisi Militer (CPM) setelah Indonesia merdeka.

BACA JUGA  Tingkatkan Kerjasama, Dua Kapal Perang Rusia di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

Kemudian pangkatnya dinaikkan menjadi ajudan Kolonel Gatot Subroto yang saat itu menjadi Komandan Polisi Tentara (PT). Lalu karena luasnya pengetahuan yang dimiliki Sutoyo, dirinya kemudian dipercaya untuk mengemban tugas sebagai Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat..

6. M.T Haryono

Mas Tirtodarmo (MT) Haryono adalah pria yang lahir di Surabaya, 20 Januari 1924. MT Haryono diketahui sempat bertugas di Belanda sebagai Atase Militer Indonesia.

Saat kembali ke Indonesia ia diangkat oleh Presiden Sukarno sebagai Deputy III Menteril Panglima Angkatan Darat.

Saat hendak diculik MT Haryono sempat melawan, namun kemudian ditembak oleh pasukan tjakrabirawa yang mendatangi kediaman MT Haryono saat itu.

7. Pierre Tendean

Pierre Andries Tendean adalah anggota TNI AD dengan pangkat Kapten yang lahir pada tanggal 21 Februari 1939. Ia adalah ajudan Abdul Haris Nasution yang berhasil meloloskan diri pada tragedi G30s/PKI tersebut.

Pierre Tendean diculik dan ditembak mati di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Tak hanya itu ia juga dianugerahi penghargaan Satya Lencana Saptamarga.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERBARU

Scroll to Top