Ada Ratusan Gunung Api Aktif, Doni Monardo: Indonesia Diintai Bencana Geologi dan Vulkanologi

Ada Ratusan Gunung Api Aktif, Doni Monardo : Indonesia Diintai Bencana Geologi dan Vulkanologi
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

BERITA TERKAIT

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan wilayah Indonesia rawan dengan ancaman bencana geologi dan vulkanologi.

Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan, Indonesia memiliki 500 gunung api dan 127 gunung dinyatakan aktif.

“Ancaman yang terus mengintai wilayah Indonesia adalah bencana geologi dan vulkanologi. Kita punya 500 gunung api, dan 127 aktif,” katanya Seminar Nasional Sosialisasi dan Pembelajaran Pemulihan Pasca Bencana Alam: Sosial, Ekonomi dan SDA, secara virtual, Selasa (15/12/2020).

Doni menurutkan ada delapan gunung api dengan letusan terbesar sepanjang sejarah di planet bumi, 3 diantaranya adalah berasal dari Indonesia.

“Sebanyak 8 gunung api dengan letusan terbesar di planet bumi ini, 3 diantaranya berasal dari negara kita yaitu gunung api Purba Danau Toba, kemudian gunung api Krakatau dan Tambora. Tiga letusan gunung api ini mengubah peradaban,” tuturnya.

Doni menambahkan ancaman bencana geologi dan vulkanologi karena Indonesia berada pada titik paling berisiko terhadap bencana alam.

“Inilah bukti betapa Indonesia berada pada titik yang sangat berisiko. Oleh karenanya sebagaimana juga ketahui dalam pembukaan Undang-Undang Dasar negara kita, bahwa negara melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,” ungkapnya.

Oleh karenanya, Doni meminta negara melalui Kementerian/Lembaga, termasuk BNPB harus selalu hadir dalam setiap bentuk bencana di Tanah Air. “Dari Sabang sampai Merauke, dari miangas sampai Pulau Rote. Bahwa BNPB harus selalu bersama masyarakat yang terdampak bencana di berbagai daerah,” tegasnya.

“Sebagaimana juga yang selalu disampaikan oleh Bapak Presiden Jokowi, solus populi suprema lex, keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi. Nah disinilah, kita tidak cukup hanya berpikir pada konstruksi. Tetapi kita juga harus mengetahui bagaimana cara melakukan pencegahannya dan juga mitigasinya. Kenali ancamannya, siapkan strateginya, ketahui masalahnya, carikan solusinya,” tutupnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERBARU

Scroll to Top